Arsip untuk ‘materi kelas XI’ Kategori

Membaca berita

Posted: September 24, 2010 in materi kelas XI

Hal-hal yang perlu diperhatikan seorang pembaca berita, yaitu:

  1. Memahami isi berita yang akan dibacakan
  2. Menempatkan jeda panjang dan pendek secara tepat
  3. Menggunakan lafal yang jelas
  4. Menggunakan intonasi yang tepat
  5. Menggunakan kejelasan ucapan (artikulasi)
  6. Mengatur kontak mata
  7. Memberikan tekanan yang tepat, dan
  8. Dapat mengatur napas dengan seimbang.
  • Lafal adalah cara seseorang atau sekelompok orang di suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa (KBBI, 2005: 623)
  • Jeda adalah waktu berhenti (mengaso) sebentar; waktu beristirahat di antara dua kegiatan atau dua babak, linguistik: berhenti sebentar di ujaran sering terjadi di depan unsur kalimat yang mempunyai isi informasi yang tidak atau kemungkinan yang rendah. (KBBI, 2005 :¬† 464)
  • Intonasi adalah lagu kalimat; ketepatan penyajian tinggi rendah nada (KBBI, 2005 : 440)

Wawancara

Posted: September 24, 2010 in materi kelas XI
  1. Definisi wawancara

Wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan bahan berita (data atau fakta). Pelaksanaan wawancara dapat dilakukan secara langsung (face to face) dengan orang yang diwawancarai atau secara tidak langsung (telepon, internet, atau surat). Tujuan dari wawancara adalah menggali informasi, komentar, opini, fakta, atau data tentang suatu masalah atau peristiwa dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Narasumber adalah orang yang mempunyai potensi memberi informasi.

2.  Jenis-jenis wawancara:

a. Wawancara berita

Adalah wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi, atau pandangan interviewee tentang suatu masalah atau peristiwa.

b. Wawancara pribadi

Wawancara untuk memperoleh data tentang diri pribadi dan pemikiran interviewee.

c. Wawancara eksklusif

Wawancara yang dilakukan seorang wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus dengan interviewee, berkaitan dengan masalah tertentu di tempat yang telah disepakati bersama oleh pewawancara dan interviewee.

d. Wawancara sambil lalu

Wawancara yang dilakukan tidak secara khusus, berlangsung secara kebetulan, tidak ada perjanjian atau kesepakatan terlebih dahulu dengan interviewee.

e. Wawancara keliling atau jalanan

Wawancara yang dilakukan seorang wartawan dengan menghubungi berbagai interviewee secara terpisah, yang satu sama lain mempunyai kaitan dengan masalah atau berita yang akan ditulis.

3. Etiket wawancara

Ketika tiba waktunya untuk mengadakan wawancara wartawan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Menjaga suasana untuk menciptakan suasana yang baik

Memang memerlukan waktu lebih, oleh karena itu sebelum memasuki materi yang akan kita percakapkan, terlebih dahulu kita membicarakan hal-hal lain yang menjadi perhatian yang kita hadapi. Misalnya kita mewawancarai tokoh politik, kita mengetahui bahwa tokoh tersebut penggemar burung nuri, maka kita dapat membicarakan terlebih dahulu tentang seluk beluk burung nuri. Hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga suasana jangan membuat orang yang kita wawancarai itu marah atau tersinggung. Sehingga percakapan langsung diputuskan dan jangan marah-marah atau memojokan orang yang kita wawancarai.

b. Bersikap wajar

Jika hendak mewawancarai orang yang lebih pintar dari kita, kita harus bisa membawa diri agar tidak direndahkan. Sebaliknya apabila kita hadapi orang bodoh, kita harus mengarahkannya tanpa harus mengguruinya, dengan demikian orang tersebut dapat mengetahui persoalan yang akan kita gali.

c. Memelihara situasi

Jangan sampai kita memasukan situasi diskusi yang berkepanjangan atau bertindak berlebihan sampai menjurus ke arah introgasi, apalagi menghakimi.

d. Tangkas dalam menarik kesimpulan

Dengan kesimpulan tepat kita dapat melanjutkan wawancara dengan tepat, kesalahan yang sering dilakukan wartawan adalah pada saat mengambil kesimpulan yang kurang tepat, sehingga orang yang diwawancarai harus mengulangi dari awal bagian-bagian percakapan yang penting.

e. Menjaga pokok persoalan

Maksudnya jangan lari dari pokok persoalan yang dibicarakan, untuk itu kita harus waspada dan terus-menerus menjaga pokok persoalan yang dibicarakan. Misalnya: kita ingin mendapat gambaran tentang gajah, orang yang kita wawancarai mula-mula bercerita tentang gajah, tetapi ketika ditengah-tengah pembicaraan ia mulai membelokan masalah dengan pembicaraan ular. Begini dik, gajah itu binatang buas yang berdaban besar. Hidupnya di hutan pulau Sumatera, kakinya besar dan puya hidung yang panjang yang disebut belalai. Dengan belalai itu gajah mampu merobohkan gedung besar. Anda tahu belalai itu? Belalai itu seperti ular phyton. Nah, anda tahu ular phyton? Ular phyton itu hidup di sawah, suka makan tikus, kodok dan sebagainya. Tetapi jangan heran, kambingpun dapat ditelannya.

f. Kritis

Sikap ini perlu dimiliki oleh setiap wartawan agar ia mendapat informasi terinci dan selengkap-lengkapnya. Dengan sikap kritis, orang yang kita wawancarai pun akan merasa berhadapan dengan orang yang tahu persoalan.

g. Sopan santun

Hal yang tak kalah penting adalah sikap sopan santun. Jangan lupa mengucapkan terima kasih setelah wawancara selesai.

4. Tahap-tahap wawancara

Tahap persiapan:

  • Menentukan topik
  • Merumuskan pertanyaan
  • Menjalin hubungan dengan pihak yang hendak diwawancarai

Tahap Pelaksanaan:

  • Datang tepat waktu
  • Memperhatikan penampilan
  • Datang dengan persiapan dan pengetahuan masalah
  • Mengemukakan alasan kedatangan (sebagai pengantar)
  • Pertanyaan dimulai dengan hal-hal umum
  • Pertanyaan tidak bersifat interogatif
  • Dengarkan jawaban dengan baik
  • Siapkan catatan

5. Kerangka Laporan Wawancara

  • Latar Balakang
  • Tujuan
  • Tempat, waktu, dan pelaksanaan
  • isi
  • kesimpulan
  • penutup
  • lampiran

Daftar Pustaka

Romli, Asep Syamsul. 2006. Jurnalistik Praktis untuk Pemula. Bandung: Rosda

Tokoh Protagonis dan Antagonis

Posted: September 10, 2010 in materi kelas XI

1. Pengertian Tokoh

Menurut Panuti Sudjiman (1988 : 16), tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Tokoh ini menjalankan alur dalam cerita dan dapat dikatakan sebagai mata air kekuatan sebuah cerita. Tokoh diharapkan dapat menyampaikan tema kepada penikmat sastra.

Sifat tokoh dalam cerita bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui: tempat tokoh tersebut berada, tindakan, ucapan dan pikirannya, kesan tokoh lain terhadap dirinya, benda-benda di sekitar tokoh, deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang.

2. Macam-macam tokoh

Hariyanto (2000 : 34) berpendapat jika dilihat dari pengembangan wataknya tokoh terbagi atas tokoh statis dan berkembang. Tokoh statis adalah pelaku dalam sastra drama yang dalam keseluruhan drama tersebut sedikit sekali bahkan tidak berubah wataknya. Sedangkan tokoh berkembang adalah pelaku dalam sastra drama yang dalam keseluruhan drama tersebut mengalami perubahan atau perkembangan watak.

Jika dilihat dari fungsinya Hariyanto (2000 : 10) menggolongkan tokoh menjadi tiga yaitu protagonis, antagonis, dan tritagonis. Tokoh protagonis membawa misi kebenaran dan kebaikan untuk menciptakan situasi kehidupan masyarakat yang damai, aman, dan sejahtera. Namun, cita-cita tokoh protagonis ini tidak selalu mulus karena adanya perlawanan dari tokoh antagonis.